Jumat, 15 Des 2017 / 26 Rabiul Awal 1439
  • Home
  • Dakwah
  • Awas!!.. Jadi PNS Dengan Cara Nyogok, Gajinya Haram Seumur Hidup

Awas!!.. Jadi PNS Dengan Cara Nyogok, Gajinya Haram Seumur Hidup

Sabtu, 07 Okt 2017 22:24
view: 3.085
Ilustrasi
DATARIAU.COM - Berita tentang suap menyuap agar bisa menjadi seorang PNS di zaman sekarang kiranya bukan hal yang aneh lagi. Padahal Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam melarang praktek haram seperti ini. Bahkan beliau melaknat perbuatan tersebut.
 
Dalam sebuah hadits riwayat Abdullah bin Amr. Dia berkata, "Rasulullah telah melaknat orang yang memberi dan menerima suap." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
 
Ibnul Arabi mengatakan bahwa suap adalah setiap harta yang diberikan kepada seseorang yang memiliki kedudukan untuk membantu atau meluluskan persoalan yang tidak halal. Al Murtasyi sebutan untuk orang yang menerima suap, Ar Rasyi sebutan untuk orang yang memberikan suap, sedangkan Ar Ra'isy adalah perantaranya. (Fathul Bari juz V hal 246)
 
Al Qori mengatakan Ar Rasyi dan Al Murtasyi adalah orang yang memberi dan menerima suap, ia merupakan sarana untuk mencapai tujuan dengan bujukan (rayuan). Ada yang mengatakan bahwa suap adalah segala pemberian untuk membatalkan hak seseorang atau memberikan hak kepada orang yang salah. (Aunul Ma'bud juz IX hal 357).
 
Suap adalah pemberian seseorang yang tidak memiliki hak kepada seseorang yang memiliki kewenangan (jabatan), baik berupa uang, barang atau lainnya untuk membantu si pemberi mendapatkan sesuatu yang bukan haknya atau menzhalimi hak orang lainnya.
 
Seperti pemberian hadiah yang dilakukan seseorang agar dirinya diterima sebagai pegawai di suatu perusahaan/instansi, agar anaknya diterima di suatu sekolah favorit/perguruan tinggi, pemberian kepada seorang guru agar anaknya naik kelas, pemberian hadiah kepada seorang hakim agar dia terbebaskan dari hukuman dan lainnya. Walaupun fakta yang ada sebenarnya mereka semua tidak berhak atau tidak memiliki persyaratan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pemberiannya tersebut.
 
Al Hafizh menyebutkan suatu riawayat dari Farrat bin Muslim, dia berkata, "Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz menginginkan buah apel dan ia tidak mandapati sesuatu pun dirumahnya yang bisa digunakan untuk membelinya maka kami pun menungang kuda bersamanya. Kemudian dia disambut oleh para Biarawan dengan piring-piring yang berisi apel.
 
Umar bin Abdul Aziz mengambil salah satu apel dan menciumnya, namun mengembalikannya ke piring tersebut. Aku pun bertanya kepadanya tentang hal itu. Maka dia berkata, "Aku tidak membutuhkannya." Aku bertanya, "Bukankah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar menerima hadiah?" dia menjawab, "Sesungguhnya, ia bagi mereka semua adalah hadiah sedangkan bagi para pejabat setelah mereka adalah suap." (Fathul Bari juz V hal 245 - 246)
 
Suap merupakan dosa besar, sehingga Allah Subahanahu wa Ta'ala mengancam para pelakunya, baik yang memberikan maupun yang menerimanya dengan laknat atau dijauhkan dari rahmat-Nya. Bahkan, sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasai dari Masruq berkata, "Apabila seorang hakim makan dari hadiah, maka sesungguhnya dia telah memakan uang sogokan. Apabila dia menerima suap, maka ia telah menghantarkannya kepada kekufuran." Masruq mengatakan barangsiapa yang meminum khamr, maka sungguh ia telah kufur dan kekufurannya adalah tidak diterima shalatnya selama 40 hari.
 
Namun, apabila pemberian hadiah terpaksa dilakukan oleh seseorang kepada pejabat yang berwenang dalam permasalahanya untuk mendapatkan haknya atau menghilangkan kezhaliman atas dirinya, maka hal ini dibolehkan bagi si pemberi dan diharamkan bagi si penerima.
 
Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para ulama telah mengatakan, "Sesungguhnya pemberian hadiah kepada wali amri - orang yang diberikan tanggung jawab atas suatu urusan - untuk melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan atasnya adalah haram, baik bagi yang memberikan maupun menerima hadiah itu, dan ini adalah suap yang dilarang Nabi Shalallahu alaihi wa sallam.
 
Adapun apabila orang itu memberikan hadiah kepadanya untuk menghentikan kezaliman terhadapnya atau untuk mendapatkan haknya maka hadiah ini haram bagi si penerima dan boleh bagi si pemberinya, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam.
 
"Sesungguhnya aku memberikan suatu pemberian kepada salah seorang dari mereka maka dia akan keluar dengan mengepit (diantara ketiaknya) api neraka. Beliau Shalallahu alaihi wa sallam ditanya, "Wahai Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam mengapa engkau memberikan kepada mereka? Beliau Shalallahu alaihi wa sallam menjawab, "Mereka enggan kecuali dengan cara meminta kepadaku dan Allah tidak menginginkan kau berlaku pelit." (Majmu' Fatawa juz XXXI hal 161)
 
Perlakuan Terhadap Penghasilan dari Suap
 
Dikarenakan suap menyuap (sogok) adalah prilaku yang diharamkan maka penghasilan yang didapat pun bisa dikategorikan sebagai penghasilan yang haram. Didalam suap ini selain melanggar rambu-rambu Allah SWT dalam mencari penghasilan, ia juga mengandung kezhaliman yang nyata terhadap orang-orang yang memiliki hak.
 
وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ
 
Artinya ; "dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil." (QS. Al Baqoroh: 188)
 
Imam al Qurthubi mengatakan, "Makna ayat ini adalah janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lainnya dengan cara yang tidak benar." Dia menambahkan, bahwa barangsiapa yang mengambil harta orang lain bukan dengan cara yang dibenarkan syariat, maka sesungguhnya ia telah memakannya dengan cara yang batil. Diantara bentuk memakan dengan cara yang batil adalah putusan seorang hakim yang memenangkan kamu sementara kamu tahu bahwa kamu sebenarnya salah. Sesuatu yang haram tidaklah berubah menjadi halal dengan putusan hakim." (al Jami' Li Ahkamil Qur'an juz II hal 711)
 
Untuk itu bagi seorang muslim hendaklah mencari nafkah dengan cara-cara yang dibenarkan syariat, sehingga setiap rupiah yang didapatnya mendapatkan berkah dari Allah.
 
Keberkahan seseorang tidaklah ditentukan dari banyak atau sedikitnya harta yang dimilikinya namun dari halal atau tidaknya harta tersebut. Seberapa pun harta yang dimiliki seseorang ketika memang itu semua didapat dengan cara-cara yang halal dan dibenarkan syariat maka didalam harta itu terdapat keberkahan dari Allah.
 
Adapun terhadap seseorang yang pernah melakukan atau bahkan terbiasa dengan praktek suap menyuap ini dan menjadikannya suatu penghasilan baginya dan untuk keluarganya, maka tidak ada kata lain baginya untuk segera melakukan hal-hal berikut :
 
1. Bertaubat kepada Allah dengan Taubat Nasuha.
 
Didalam praktek suap yang dilakukannya bukan hanya dosa terhadap seseorang, namun juga ada dosa terhadap Allah, dan ini hanya bisa dimaafkan dengan jalan bertaubat yang sebenar-benarnya.
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
 
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)." (QS. At Tahrim: 8)
 
A. Meninggalkan kemaksiataan yang dilakukannya.
B. Menyesali perbuatannya.
C. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama
     lamanya.
 
Adapun terhadap harta atau barang hasil suapnya dapat dibedakan menjadi:
 
Apabila harta suap itu didapat dengan cara menzhalimi orang yang memiliki hak untuk mendapatkan haknya, maka selain bertaubat orang itu harus melakukan hal-hal berikut:
 
2. Mengembalikan harta yang diambil dengan cara haram tersebut kepada pemberinya, apabila ia masih hidup atau kepada ahli warisnya, apabila ia sudah meninggal dunia, sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, "Janganlah salah seorang diantara kamu mengambil barang saudaranya, baik dengan sungguh-sungguh atau main-main. Dan apabila salah seorang diantara kamu bermaksiat (mengambil barang) saudaranya, maka dia harus mengembalikannya." (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)
 
3. Jika harta yang diambil dari suap tersebut sudah bercampur dengan harta yang halal, maka dia harus memisahkan diantara keduanya dengan cara memperkirakan berapa banyak harta yang diambil dengan cara suap tersebut dan mengembalikan kepada pemiliknya.
 
Didalam Fatawa Ibnu Sholah dijelaskan, "Apabila dirham yang halal telah bercampur dengan beberapa dirham yang haram dan susah dibedakan, maka caranya adalah dengan memisahkannya (memperkirakan) darinya yang haram dengan niat pemisahan kemudian mempergunakan sisanya yang halal." (Buhuts wa Fatawa Islamiyah juz III hal 276)
 
4. Namun apabila pemilik harta tersebut (si pemberi) sudah susah dilacak begitu juga dengan para ahli warisnya, sementara dia sudah berusaha sedemikian rupa, sehingga hampir-hampir putus asa, maka dibolehkan baginya untuk menyedekahkanya atas nama si pemberi suap ke tempat-tempat yang baik seperti pembangunan masjid, rumah sakit, jembatan dan lainnya. Walaupun orang yang memberikan itu bukan seorang muslim, Wallahu A'lam.
Editor: Hermansyah

Sumber: Kabarmakkah.com | Eramuslim.com

Ingin berbagi artikel, opini, dan informasi lainnya silahkan kirim ke email [email protected] SMS/WA: 081339661966. Sertakan data diri. Komplain dan aduan SMS ke 085265651178.
BAGIKAN:

Baca Juga

  • Islam Melarang Keras Aksi Terorisme

    DATARIAU.COM - Ingatlah bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme, silakan mengkaji dalam Al Qur'an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahk

  • Bahaya Fanatik Kepada Satu Ustadz, Saat Salah Tetap Dianggap Benar

    DATARIAU.COM - Tidak dibenarkan seorang yang fanatik terhadap satu ustadz, kemudian menganggap apa yang dikatakan ustadz tersebut pasti benar bahkan yang sal

  • Saat Celana Pendek Mencela Celana Cingkrang

    DATARIAU.COM - Islam merupakan agama yang sempurna, bukan hanya mengajarkan soal ibadah, bahkan tata cara berpakaian pun diajarkan secara detail di Islam. Se

  • "Sombong Terhadap Orang Sombong Adalah Sedekah" Ini Bukan Hadits

    DATARIAU.COM - Sahihkah hadits dengan matan terjemahan, "Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah." Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ul

  • Jangan Bully Ustadz yang Keliru dan Salah Ucap

    DATARIAU.COM - Hendaknya orang awam dan penuntut ilmu (termasuk kami pribadi) lebih khawatir pada dirinya sendiri. Renungkanlah, jika para ulama dan ustadz b

  • KOMENTAR
    Polling

    Siapa GUBERNUR RIAU Periode 2018-2023 Pilihan Pembaca Data?
    Ir H Arsyadjuliandi Rachman MBA
    DR H Firdaus MT
    Drs H Syamsuar MSi
    HM Harris
    H Hendry Munief MBA
    H Nurzahedi SE
    Ir H Muhammad Lukman Edy MSi
    Drs H Achmad MSi
    Drs H Irwan Nasir MSi

    Siapa WAKIL GUBERNUR RIAU Periode 2018-2023 Pilihan Pembaca Data?
    H Yopi Arianto SE
    Intsiawati Ayus SH MH
    H Rusli Effendi SPdI SE MSi
    H Suyatno AMP
    Khairuddin Al-Young Riau SHI MAg