Senin, 22 Jan 2018 / 5 Jamadil Awal 1439

Shalat Nyandar ke Tembok, Apakah Sah?

Jumat, 20 Okt 2017 06:29
view: 359
Ilustrasi

DATARIAU.COM - Berdiri ketika shalat wajib termasuk rukun shalat.

Allah berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Jagalah shalat 5 waktu dan terutama shalat asar, dan berdirilah menghadap Allah dalam kondisi tunduk. (QS. al-Baqarah: 238)

Dalam hadis dari Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Kerjakan sambil berdiri, jika tidak mampu, kerjakan sambil duduk. Jika tidak mampu kerjakan sambil berbaring miring. (HR. Bukhari 1117).

Karena itu, bagi orang yang shalat wajib, selama dia mampu berdiri, dia harus berdiri.

Bolehkah Shalat Bersandar?

Ada beberapa kondisi mengenai hal ini,

[1] jika dia sedang sakit atau dalam kondisi lemah, dibolehkan untuk bersandar baik dalam shalat sunah maupun shalat wajib. Baik dengan tongkat atau tembok atau semacamnya.

Dalilnya, hadis dari Ummu Qais bintu Mihshan radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا أَسَنَّ وَحَمَلَ اللَّحْمَ اتَّخَذَ عَمُودًا فِى مُصَلاَّهُ يَعْتَمِدُ عَلَيْهِ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sudah lanjut usia dan mulai gemuk, beliau meletakkan tongkat di tempat shalatnya,yang digunakan untuk bersandar. (HR. Abu Daud 949 dan dishahihkan al-Albani).

Ketika menjelaskan hadis ini, as-Syaukani mengatakan,

وحديث أم قيس يدل على جواز الاعتماد في الصلاة على العمود والعصا ونحوهما، لكنْ مقيداً بالعذر المذكور؛ وهو الكبر وكثرة اللحم، ويلحق بهما الضعف، والمرض، ونحوهما، وقد ذكر جماعة من العلماء أن من احتاج في قيامه إلى أن يتكئ على عصا، أو عكاز، أو يسند إلى حائط، أو يميل على أحد جنبيه من الألم؛ جاز له ذلك

Hadis ini menunjukkan bolehnya bersandar ketika shalat, dengan tiang, tongkat, atau semacamnya, dengan catatan ada udzur seperti yang disebutkan, yaitu sudah tua, atau kegemukan. Termasuk orang yang lemah, sakit, atau semacamnya. Sekelompok ulama menyebutkan, orang yang ketika berdiri butuh untuk bersandar dengan tongkat, stik, atau bersandar dengan tembok, atau condong miring karena sakit, semua itu boleh. (Nailul Authar, 2/384).

[2] Bagi mereka yang normal dan sehat, tidak boleh bersandar ketika mengerjakan shalat wajib. Dan jika dia bersandar penuh, dimana ketika sandaran itu dicabut menyebabkan dia terjatuh, maka shalatnya menjadi batal.

An-Nawawi mengatakan,

وأما الاتكاء على العصي؛ فجائز في النوافل باتفاقهم، إلا ما نقل عن ابن سيرين من كراهته، وأما في الفرائض؛ فمنعه مالك والجمهور وقالوا: من اعتمد على عصا أو حائط ونحوه بحيث يسقط لو زال؛لم تصح صلاته

“Bersandar dengan tongkat, dibolehkan untuk shalat sunah dengan sepakat ulama. Kecuali riwayat Ibnu Sirin yang memakruhkan. Sementara untuk shalat wajib, dilarang bersandar menurut Imam Malik dan mayoritas ulama. Mereka mengatakan, ‘Siapa yang bersandar dengan tongkat atau tembok atau semacamnya, dimana dia bisa jatuh ketika sandaran itu dibuang, maka shalatnya tidak sah.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/265).

Fatwa yang sama juga disampaikan Imam Ibnu Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang shalat wajib sambil bersandar. Jawaban beliau,

أما الاتكاء وهو واقفٌ في الفريضة فإنه مكروه، وإذا كان لو أزيل المتكأ عليه لسقط بطلت الصلاة

Bersandar, ketika dia berdiri pada saat shalat wajib, hukumnya makruh. Dan ketika dia bersandar, dimana andai sandarannya dihilangkan, dia  jatuh, maka shalatnya batal. (Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 168, no. 12).

[3] Untuk shalat sunah, dibolehkan sambil bersandar meskipun dia bisa berdiri dengan normal.

Ibnul Qasim mengatakan,

وسألت مالكا عن الرجل يصلي إلى جنب حائط فيتكئ على الحائط؟ فقال: أما في المكتوبة فلا يعجبني وأما في النافلة فلا أرى به بأسا

Saya bertanya kepada Imam Malik tentang orang yang shalat sambil miring dan bersandar ke tembok? Beliau mengatakan, “Untuk shalat wajib, saya tidak suka. Sedangkan untuk shalat sunah, menurutku tidak masalah.” (al-Mudawwanah, 1/169).

Demikian, Allahu a’lam…

Sumber: https://konsultasisyariah.com/30374-shalat-nyandar-ke-tembok-shalatnya-batal.html

Editor: Riki

Sumber: Konsultasisyariah.com

Tegur kami jika termuat berita tidak sesuai fakta dengan menghubungi 085265651178 atau email: [email protected] Kami juga menerima artikel, opini, dan informasi lainnya. Sertakan data diri Anda.
BAGIKAN:

Baca Juga

  • Darurat Hadis Palsu di Media Sosial

    DATARIAU.COM - Satu tombol bisa memiliki sejuta fungsi, bisa menjadi sumber kebaikan, dan sekaligus menjadi sumber kejahatan. Itulah media sosial. Betapa mud

  • Perintahkan Keluargamu Untuk Shalat

    DATARIAU.COM - Dari 'Abdullah bin 'Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
  • Tak Seharusnya Umat Islam Ikut Tiup Terompet dan Ledakan Kembang Api di Tahun Baru

    DATARIAU.COM - Perayaan tahun baru termasuk hari raya non muslim. Dengan bukti, perayaan ini memiliki latar belakang ideologi. Sehingga bukan sebatas tradisi

  • Waspada, Ini Dalil yang Digunakan Ajaran Menyimpang Tentang Bolehnya Ucapan Selamat Natal

    DATARIAU.COM - Ada dua prinsip yang perlu kita perhatikan ketika berdalil, pertama, keabsahan dalil. Sebelum menggunakan dalil, kita perlu memastikan kesahih

  • Hukum Membeli Diskon Momen Natal dan Hari Raya Non-Muslim

    DATARIAU.COM - Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah dengan non-muslim adalah boleh. Sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa salla

  • KOMENTAR
    Polling

    Pasangan Gubernur-Wagub Riau Periode 2018-2023 Pilihan Pembaca Data Riau
    Drs H Syamsuar MSi - Edy Afrizal Natar Nasution
    DR H Firdaus MT - H Rusli Effendi SPdI SE MSi
    Ir H Arsyadjuliandi Rachman MBA - H Suyatno AMP
    Ir H Muhammad Lukman Edy MSi - Hardianto