Kamis, 27 Apr 2017 / 30 Rejab 1438
  • Home
  • Opini
  • Masyarakat Melayu Riau Dengan Kebhinekaan

Oleh: Tengku Azwendi Fajri

Masyarakat Melayu Riau Dengan Kebhinekaan

Senin, 05 Des 2016 14:08
view: 291
dok.
Tengku Azwendi Fajri SE.

PEKANBARU, datariau.com - Bhineka Tunggal Ika di Bumi Melayu wujud kedewasaan berbangsa Persatuan dan kesatuan Negara kesatuan Republik Indonesia menjadi tekad yang sangat harus bisa dipertahankan saat ini.

Taruhannya jelas terlihat ketika kita mencoba untuk mengurai permasalahan kebangsaan dewasa ini, polemik penistaan agama yang dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta yang notabennya juga menjadi calon petahana untuk pilgub 2017 mendatang. Berbagai kepentingan menjadi satupadu untuk menyuarakan berlakunya azaz keadilan dalam penanganan proses penistaan agama tersebut yang dibawa lalu diproses dalam ranah hukum yang berlaku di negeri ini.

Bila dilihat lebih dalam, kondisi ini sangat rentan terjadi konflik dan pemboncengan terhadap berbagai kepentingan diluar konteks penistaan agama.

Aksi damai sebagai respon dari perkataan gubernur DKI Jakarta dengan memasukkan kata-kata surat Al Maidah ayat 51 ketika melakukan kunjungan kerja kepulauan seribu dalam memberi kata sambutan didepan publik yang telah dilakukan sebanyak tiga kali atau lebih dikenal dengan jargon jilid III dengan jumlah massa yang tidak sedikit, memberikan kita pelajaran bahwa bangsa ini telah beranjak dewasa dalam berdemokrasi dan toleransi terhadap keberagaman agama.

Bisa kita lihat dengan aksi yang begitu besar tidak satupun etnis atau penganut agama diluar islam yang menjadi korban dari tuntutan dan aksi yang dilakukan, walaupun banyak pihak yang mencoba untuk membawa permasalahan ini menjadi permasalahan antara agama, etnis, suku dan lain sebagai dengan membangun berbagai bentuk statement yang dibuat seolah-olah bangsa ini telah terkotak-kotak melalui media cetak, online, social media, televisi dan lain sebagai. Namun sampai saat ini, bangsa ini kembali memperlihatkan kedewasaan.

Reaksi dan respon dari permalasahan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal ahok yang telah ditetapkan kepolisian republik Indonesia menjadi tersangka pada tanggal 16 November 2016 yang lalu, tidak hanya terjadi di ibukota namun juga diberbagai daerah, salah satunya Provinsi Riau yang berpusat di Kota Pekanbaru. Bumi lancang kuning yang merupakan tanah melayu ini berpartisipasi dalam memperlihatkan kedewasaan masyarakat dalam menyampaikan pesan dan sikap.

Daerah yang juga mayoritas muslim dan sangat indentik dengan adat dan tatanan tunjuk ajar melayu ikut menyelenggarakan aksi damai jilid III yang diikuti oleh berbagai organisasi masyarakat islam dan juga masyarakat Riau. Seolah sedang memperlihatkan tingkat toleransi, kesatuan, persatuan, dan kebebasan dalam menyampaikan sikap dan pendapat, aksi dilakukan dengan sangat damai dan penuh kekeluargaan namun tetap menghormati hak, kepercayaan, keyakinan, prinsip dan ideologi pada setiap masyarakat sesuai dengan tatanan melayu.

Kebhinekaan yang ada dinegeri ini bukan untuk melihat titik perbedaannya, dan memaksakan untuk terlihat sama namun bagai mana kita melihat kebhinekaan termasuk dalam hal beragama menjadi harta kekayaan yang dapat memberikan ketenangan dan ketentraman dalam berbangsa dan bertanah air dengan aturan, tatanan hukum dan pemerintahan yang menjaga kebhinekaan bangsa ini. Hal ini yang dapat dilihat bersama dari apa yang telah terjadi dalam polemik penistaan agama.

Dalam setiap dinamika dan polemik, kepentingan politik menjadi satu hal yang sangat diwaspadai keberadaannya. Dalam zona permasalahan penistaan agama yang ditujukan kepada gubernur DKI nonaktif Ahok, perihal politisasi sangat melekat. Karena memang kejadian dan keadaan yang berada pada saat kejadian dan sekarang berada dalam masa penyelenggaraan pesta demokrasi khusunya dijakarta. Tentunya topik politisasi sangat mudah untuk dilekatkan pada setiap kejadian dan tindakan yang dilakukan.

Jauh dari Jakarta, Riau yang sampai dengan saat ini tidak terbawa kedalam arus pengaburan topik dan upaya pecah belah dengan pola rasis, masyarakat melayu yang memang telah tumbuh dengan toleransi bermasyarakat dan berbangsa menciptakan suasana yang tenang dan harmonis.

Ditakdirkan sebagai bumi melayu dengan keberagaman yang begitu kompleks dengan segala keterbukaan menjadikan provinsi riau khususnya pekanbaru sebagai daerah dengan tingkat konflik ethis dan ras yang rendah.

Dengan ditetapkannya sebagai tersangka, ahok dipastikan akan melanjutkan persoalan penistaan agama di ranah hukum. Besarnya tuntutan dan harapan masyarakat kepada pemerintah dan aparat kepolisian dalam penananganan permasalahan ini dan keinginan pemerintah untuk menjaga kepercayaan publik kepada penyelenggara Negara dan hukum telah dibuktikan.

Keseriusan penanganan permasalahan ini dengan melakukan berbagai penyelidikan dan penetapan barang bukti telah dilakukan. Namun, tentunya ini tidak hanya sekedar ceremoni semata, penyelesaian harus dilakuan dari hulu hingga kehilir permasalahan, sehingga inilah yang menjadi standarisi penanganan hukum dalam permasalahan penistaan agama.

Sehingga tidak ada yang dikecewakan dan jaminan terhadap kepercayaan (agama) yang dianut dapat dijaga dan ini sesuai dengan apa yang dikehendaki masyarakat melayu sebagai wujud kedewasaan berbangsa.

Sebagai antithesis dari dari fenomena ini, setidaknya kita dituntut untuk dapat berfikir jernih ditengah keriuhan panasnya dinamika proses penyelesaian permasalahan penistaan agama yang telah berhasil menarik jutaan mata penduduk Indonesia. Kita dituntut untuk dapat berpikir positif dengan melibatkan naluri dan akal sehat, memisahkan antara fakta, isu, pengalihan sudut pandang, kepastian hukum, kepatutan proses dan berbagai pemikiran yang menuntun kita melihat benang merah dari fenomena yang terjadi.

Isu yang di hembuskan sangat beragam dan mengambil berbagai sudut pandang dari beragam ras. Jika kita terjebah disini, maka tidak dipungkiri akan berdampak bukan hanya untuk pemilihan dalam proses terbentuknya demokrasi tetapi juga keutuhan NKRI.

Setidaknya meletakkan sesuatu yang tepat di tempat yang tepat dan melihat sesuatu sesuai dengan kacamatanya. Memilah-milah fenomena dan focus terhadap fenomena yang menjadi tuntutan dapat menghasilkan suasana yang jernih.

Dengan fenomena penistaan yang telah keluar layaknya tsunami, dalam waktu seketika dapat menghancurkan semuanya, kita dituntut untuk dapat berpegangan pada media yang dapat menahan kita dari kehancuran. Keyakinan terhadap penegakan hukum dan fokus penyelesaian dibidang keagamaan (permasalahan penistaan) menjadi perihal yang harus kita pastikan.

Jika hukum telah berjalan dan takdir kebhinekaan bumi melayu dijunjung tinggi maka tidak ada lagi alasan untuk tidak bersatu. Berjayalah bangsa ku, bhineka tunggal ika di bumi melayu. (poc)

Penulis merupakan Anggota DPRD Kota Pekanbaru.

Editor: Agusri

Ingin berbagi artikel, opini, dan informasi lainnya silahkan kirim ke email redaksi.datariau@gmail.com SMS/WA: 081339661966. Sertakan data diri. Komplain dan aduan SMS ke 085265651178.
BAGIKAN:

BACA JUGA

  • DPRD Minta Pengurus LAM Pekanbaru Jangan Diam

    PEKANBARU, datariau.com - Hingga saat ini, keberadaan kantor Lembaga Adat Melayu (LAM) Pekanbaru tak kunjung ditempati. Bahkan seiring berjalannya waktu, kondisi gedun

  • DPRD Desak Pemko Pekanbaru Segera Selesaikan Persoalan Gedung LAM dengan Kontraktor

    PEKANBARU, datariau.com - Kalangan DPRD Kota Pekanbaru sangat menyayangkan belum adanya kejelasan operasional Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Pekanbaru

  • Gubernur Riau Andi Rachman Resmi Menyandang Gelar Datuk Seri Setia Amanah

    PEKANBARU, datariau.com - Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman resmi menyandang gelar Datuk Seri Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu (LAM) Riau setelah melal

  • DPRD Tuding Pemko Pekanbaru Kurang Perhatikan LAM

    PEKANBARU, datariau.com - Belum difungsikannya kantor lembaga adat melayu (LAM) yang berada di Senapelan Pekanbaru sangat disayangkan oleh kalangan legislati

  • Masyarakat Melayu Riau Dengan Kebhinekaan

    PEKANBARU, datariau.com - Bhineka Tunggal Ika di Bumi Melayu wujud kedewasaan berbangsa Persatuan dan kesatuan Negara kesatuan Republik Indonesia menjadi tek

  • 10 Tahun Riau Hitam-Putih Internasional, Digelar Musik Tradisional dan Modern

    PEKANBARU, datariau.com - Perkembangan dan bermain musik Melayu tradisional yang dikombinasikan dengan musik modern di Bumi Lancang Kuning tidak pernah berhe

  • Kemana Hilangnya Mata Pelajaran Arab Melayu, Ini Penjelasan Itang Tarsana

    TAMBANG, datariau.com - Sadarkah kita, kalau saat ini mata pelajaran Arab Melayu sudah jarang terdengar. Padahal, beberapa tahun lalu setiap sekolah wajib me

  • KOMENTAR
    PERMASI