Jumat, 19 Jan 2018 / 2 Jamadil Awal 1439
  • Home
  • Opini
  • Masyarakat Melayu Riau Dengan Kebhinekaan

Oleh: Tengku Azwendi Fajri

Masyarakat Melayu Riau Dengan Kebhinekaan

Senin, 05 Des 2016 14:08
view: 562
dok.
Tengku Azwendi Fajri SE.

PEKANBARU, datariau.com - Bhineka Tunggal Ika di Bumi Melayu wujud kedewasaan berbangsa Persatuan dan kesatuan Negara kesatuan Republik Indonesia menjadi tekad yang sangat harus bisa dipertahankan saat ini.

Taruhannya jelas terlihat ketika kita mencoba untuk mengurai permasalahan kebangsaan dewasa ini, polemik penistaan agama yang dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta yang notabennya juga menjadi calon petahana untuk pilgub 2017 mendatang. Berbagai kepentingan menjadi satupadu untuk menyuarakan berlakunya azaz keadilan dalam penanganan proses penistaan agama tersebut yang dibawa lalu diproses dalam ranah hukum yang berlaku di negeri ini.

Bila dilihat lebih dalam, kondisi ini sangat rentan terjadi konflik dan pemboncengan terhadap berbagai kepentingan diluar konteks penistaan agama.

Aksi damai sebagai respon dari perkataan gubernur DKI Jakarta dengan memasukkan kata-kata surat Al Maidah ayat 51 ketika melakukan kunjungan kerja kepulauan seribu dalam memberi kata sambutan didepan publik yang telah dilakukan sebanyak tiga kali atau lebih dikenal dengan jargon jilid III dengan jumlah massa yang tidak sedikit, memberikan kita pelajaran bahwa bangsa ini telah beranjak dewasa dalam berdemokrasi dan toleransi terhadap keberagaman agama.

Bisa kita lihat dengan aksi yang begitu besar tidak satupun etnis atau penganut agama diluar islam yang menjadi korban dari tuntutan dan aksi yang dilakukan, walaupun banyak pihak yang mencoba untuk membawa permasalahan ini menjadi permasalahan antara agama, etnis, suku dan lain sebagai dengan membangun berbagai bentuk statement yang dibuat seolah-olah bangsa ini telah terkotak-kotak melalui media cetak, online, social media, televisi dan lain sebagai. Namun sampai saat ini, bangsa ini kembali memperlihatkan kedewasaan.

Reaksi dan respon dari permalasahan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal ahok yang telah ditetapkan kepolisian republik Indonesia menjadi tersangka pada tanggal 16 November 2016 yang lalu, tidak hanya terjadi di ibukota namun juga diberbagai daerah, salah satunya Provinsi Riau yang berpusat di Kota Pekanbaru. Bumi lancang kuning yang merupakan tanah melayu ini berpartisipasi dalam memperlihatkan kedewasaan masyarakat dalam menyampaikan pesan dan sikap.

Daerah yang juga mayoritas muslim dan sangat indentik dengan adat dan tatanan tunjuk ajar melayu ikut menyelenggarakan aksi damai jilid III yang diikuti oleh berbagai organisasi masyarakat islam dan juga masyarakat Riau. Seolah sedang memperlihatkan tingkat toleransi, kesatuan, persatuan, dan kebebasan dalam menyampaikan sikap dan pendapat, aksi dilakukan dengan sangat damai dan penuh kekeluargaan namun tetap menghormati hak, kepercayaan, keyakinan, prinsip dan ideologi pada setiap masyarakat sesuai dengan tatanan melayu.

Kebhinekaan yang ada dinegeri ini bukan untuk melihat titik perbedaannya, dan memaksakan untuk terlihat sama namun bagai mana kita melihat kebhinekaan termasuk dalam hal beragama menjadi harta kekayaan yang dapat memberikan ketenangan dan ketentraman dalam berbangsa dan bertanah air dengan aturan, tatanan hukum dan pemerintahan yang menjaga kebhinekaan bangsa ini. Hal ini yang dapat dilihat bersama dari apa yang telah terjadi dalam polemik penistaan agama.

Dalam setiap dinamika dan polemik, kepentingan politik menjadi satu hal yang sangat diwaspadai keberadaannya. Dalam zona permasalahan penistaan agama yang ditujukan kepada gubernur DKI nonaktif Ahok, perihal politisasi sangat melekat. Karena memang kejadian dan keadaan yang berada pada saat kejadian dan sekarang berada dalam masa penyelenggaraan pesta demokrasi khusunya dijakarta. Tentunya topik politisasi sangat mudah untuk dilekatkan pada setiap kejadian dan tindakan yang dilakukan.

Jauh dari Jakarta, Riau yang sampai dengan saat ini tidak terbawa kedalam arus pengaburan topik dan upaya pecah belah dengan pola rasis, masyarakat melayu yang memang telah tumbuh dengan toleransi bermasyarakat dan berbangsa menciptakan suasana yang tenang dan harmonis.

Ditakdirkan sebagai bumi melayu dengan keberagaman yang begitu kompleks dengan segala keterbukaan menjadikan provinsi riau khususnya pekanbaru sebagai daerah dengan tingkat konflik ethis dan ras yang rendah.

Dengan ditetapkannya sebagai tersangka, ahok dipastikan akan melanjutkan persoalan penistaan agama di ranah hukum. Besarnya tuntutan dan harapan masyarakat kepada pemerintah dan aparat kepolisian dalam penananganan permasalahan ini dan keinginan pemerintah untuk menjaga kepercayaan publik kepada penyelenggara Negara dan hukum telah dibuktikan.

Keseriusan penanganan permasalahan ini dengan melakukan berbagai penyelidikan dan penetapan barang bukti telah dilakukan. Namun, tentunya ini tidak hanya sekedar ceremoni semata, penyelesaian harus dilakuan dari hulu hingga kehilir permasalahan, sehingga inilah yang menjadi standarisi penanganan hukum dalam permasalahan penistaan agama.

Sehingga tidak ada yang dikecewakan dan jaminan terhadap kepercayaan (agama) yang dianut dapat dijaga dan ini sesuai dengan apa yang dikehendaki masyarakat melayu sebagai wujud kedewasaan berbangsa.

Sebagai antithesis dari dari fenomena ini, setidaknya kita dituntut untuk dapat berfikir jernih ditengah keriuhan panasnya dinamika proses penyelesaian permasalahan penistaan agama yang telah berhasil menarik jutaan mata penduduk Indonesia. Kita dituntut untuk dapat berpikir positif dengan melibatkan naluri dan akal sehat, memisahkan antara fakta, isu, pengalihan sudut pandang, kepastian hukum, kepatutan proses dan berbagai pemikiran yang menuntun kita melihat benang merah dari fenomena yang terjadi.

Isu yang di hembuskan sangat beragam dan mengambil berbagai sudut pandang dari beragam ras. Jika kita terjebah disini, maka tidak dipungkiri akan berdampak bukan hanya untuk pemilihan dalam proses terbentuknya demokrasi tetapi juga keutuhan NKRI.

Setidaknya meletakkan sesuatu yang tepat di tempat yang tepat dan melihat sesuatu sesuai dengan kacamatanya. Memilah-milah fenomena dan focus terhadap fenomena yang menjadi tuntutan dapat menghasilkan suasana yang jernih.

Dengan fenomena penistaan yang telah keluar layaknya tsunami, dalam waktu seketika dapat menghancurkan semuanya, kita dituntut untuk dapat berpegangan pada media yang dapat menahan kita dari kehancuran. Keyakinan terhadap penegakan hukum dan fokus penyelesaian dibidang keagamaan (permasalahan penistaan) menjadi perihal yang harus kita pastikan.

Jika hukum telah berjalan dan takdir kebhinekaan bumi melayu dijunjung tinggi maka tidak ada lagi alasan untuk tidak bersatu. Berjayalah bangsa ku, bhineka tunggal ika di bumi melayu. (poc)

Penulis merupakan Anggota DPRD Kota Pekanbaru.

Editor: Agusri

Tegur kami jika termuat berita tidak sesuai fakta dengan menghubungi 085265651178 atau email: [email protected] Kami juga menerima artikel, opini, dan informasi lainnya. Sertakan data diri Anda.
BAGIKAN:

Baca Juga

  • UU Ormas Senjata Legitimasi Kekuasaan

    DATARIAU.COM  - Perppu No. 2 Tahun 2017 disahkan DPR menjadi undang-undang melalui rapat paripurna. Mayoritas partai koalisi pemerintah solid menerima p

  • Natuna Sudah seharusnya Menjadi Propinsi

    DATARIAU.COM-Natuna Yg kekayaan Alamnya yg begitu Luas serta berbatasan dengan Negara-Negara Asing sudah Seharusnya Menjadi Prioritas Utama untuk jadikan Wilayah ini Me
  • Transparansi Anggaran Masih Begitu Mahal Bagi Masyarakat Riau

    DATARIAU.COM - Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan masyarakat menjadi kebutuhan utama dalam mengembangkan information society dan k

  • Urgensi Perda Bantuan Hukum Untuk Masyarakat Miskin di Inhil

    TEMBILAHAN, Datariau.com - Hukum itu diciptakan atau direkayasa oleh manusia, terutama hukum tertulis. Setelah hukum itu tercipta maka manusia terikat pada
  • Sekolah Tak Akan Mampu Sendiri Melawan Penyimpangan Moral Remaja Saat Ini

    DATARIAU.COM - Pendidikan moral bukanlah sebuah topik baru dalam pendidikan. Pada kenyataannya, pendidikan moral ternyata sudah seumur pendidikan itu sendiri

  • KOMENTAR
    Polling

    Pasangan Gubernur-Wagub Riau Periode 2018-2023 Pilihan Pembaca Data Riau
    Drs H Syamsuar MSi - Edy Afrizal Natar Nasution
    DR H Firdaus MT - H Rusli Effendi SPdI SE MSi
    Ir H Arsyadjuliandi Rachman MBA - H Suyatno AMP
    Ir H Muhammad Lukman Edy MSi - Hardianto