Senin, 18 Des 2017 / 29 Rabiul Awal 1439

Berburu Emas Sultan di Aceh

Selasa, 19 Sep 2017 08:21
view: 185
ACEH UTARA, datariau.com - Husaini Usman terlihat santai sambil menyeruput kopi di Warung Taufik Kupi di Desa Meunasah Kota, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Ahad (17/9/2017). Pria yang akrab disapa Abu ini adalah salah satu kolektor dirham (mata uang emas) kesultanan Aceh.

Sebagian telah dijualnya beberapa waktu lalu. Saat berbicara soal dirham Aceh, dia langsung serius.

"Sayangnya dirham itu tidak banyak diselamatkan. Umumnya dijual semua," kata Husaini, menarik nafas dalam-dalam.

Perburuan dirham Aceh dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Mata uang itu menggunakan emas 22 karat, namun sebagian sultan era Kerajaan Samudera Pasai juga menggunakan emas murni.

Bentuk dirham beragam, sangat tergantung era sultan yang mengeluarkan logam mulia tersebut. Misalnya, sambung Husaini, era Sultan Ahmad atau nama lainnya Malik Al Tahir (1326-1348) mengeluarkan koin emas murni.

"Dari jenis emas yang digunakan itu memperlihatkan kejayaan sultan yang memimpin saat itu. Kita tahu, semua kesultanan yang memimpin Kerajaan Samudera Pasai sangat jaya pada masanya. Namun, era Sultan Ahmad ditemukan koin emas murni, bukan emas 22 karat, itu tanda ekonomi sangat maju saat itu," kata Husaini.

Dia menyebutkan mayoritas koin emas itu menuliskan nama sultan yang memimpin kala itu. Misalnya, koin emas diameter 11 milimeter yang ditemukan Azhar (26), warga Desa Asan, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara. Koin emas itu bertuliskan As-Sultan Al-Adil (sultan yang adil) dan pada sisi lain tertulis Abu Zaid Malik Az Zahir, sultan yang memimpin ketika koin emas itu dikeluarkan.

Sejarawan Aceh yang meneliti kerajaan Islam di Aceh, Taqiyuddin Muhammad menyebutkan, makan Sultan Abu Zaid ditemukan di Desa Blang Me, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Lokasi ini merupakan pusat kerajaan Samudera Pasai ketika makam para sultan dan ratu juga ditemukan.

"Abu Zaid dalam inskripsi nisannya tertulis putra dari Sultan Zainal Abdin Ra-Ubaddar yang juga bernama Ahmad, sebagaimana nama saudaranya yang lain. Nama panggilannya yang membedakan, yaitu Abu Zaid, ditulis sultan ini sangat dermawan dan meninggal pada Jumat, 24 Jumadil Akhir 870 hijriah (1466 masehi)," kata Taqiyuddin.

Perekonomian di era Kerajaan Samudera Pasai berkembang pesat. Kapal dagang kerap bersandar di sejumlah pelabuhan Aceh. Karena itu pula, tak heran koin emas ditemukan di sejumlah lokasi.

"Koin ini kerap ditemukan selain di kompleks pemakanan sultan, ada juga di kawasan Meuraxa Kota Lhokseumawe hingga ke Kuta Piadah, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Sebagian kecil ditemukan di kawasan perbukitan menandakan ada pasar besar di sana tempo dulu," terang Husaini.

Namun, sayangnya, sambung Husaini, koin itu hanya dijual Rp 350.000-Rp 800.000 per keping oleh warga.

"Toko emas juga banyak yang membeli emas ini. Harga mahal atau murah itu tergantung kadar emas yang dimiliki koin tersebut," terang Husaini.

Dia berharap koin emas itu bisa diselamatkan oleh pemerintah agar menjadi bukti sejarah bagi generasi muda Indonesia bahwa Aceh saat di era kesultanan pernah menjadi daerah yang kaya raya.

"Semoga koin emas ini semuanya lengkap ada di tangan pemerintah di semua era kesultanan. Kalau tidak diselamatkan, maka satu hari kelak, orang Indonesia tak akan mengetahui bahwa di Aceh, ada kerajaan yang kaya raya dengan mata uang emas," pungkasnya.
loading...
Editor: Riki

Sumber: Kompas.com

Ingin berbagi artikel, opini, dan informasi lainnya silahkan kirim ke email [email protected] SMS/WA: 081339661966. Sertakan data diri. Komplain dan aduan SMS ke 085265651178.
BAGIKAN:

Baca Juga

  • Bengkel Seni Rantau Kampar Kiri Gelar Festival Equator

    KAMPARKIRI, datariau.com - Kampar Kiri kembali menggelar festival equator yang ditaja oleh Bengkel Seni Rantau. Festival ini bertujuan agar masyarakat lebih

  • Hutan Lindung Kuansing Jadi Tempat Rekreasi

    TELUK KUANTAN, datariau.com - Hutan lindung yang akan segera dibuka di desa Tanjung Pauh, kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuansing jarak tempuhnya kurang

  • Penutupan Festival Budaya Melayu Riau Tahun 2017 Berlangsung Khidmat

    PEKANBARU, datariau.com - Setelah sukses melaksanakan serangkaian acara Festival Budaya Melayu beberapa waktu lalu, malam tadi, Rabu (29/11/2017) Laman Bujan

  • Liburan Akhir Tahun di Natuna, Wisatawan Dimanjakan dengan Kekayaan Wisata

    NATUNA, datariau.com - Banyaknya kekayaan Wisata Natuna akan membuat wisatawan-wisatawan domestik maupun luar negeri yang bekunjung di Natuna akan terpuaskan

  • Atraksi Bakar Tongkang Rohil Juara Pertama Penganugerahan Saptapesona Indonesia 2017

    ROHIL, datariau.com - Kabupaten Rokan Hilir di Atraksi Wisata Budaya Bakar Tongkang menyabet prediket Juara Pertama pada malam Penganugerahan Pesona Indonesi

  • KOMENTAR
    Polling

    Siapa GUBERNUR RIAU Periode 2018-2023 Pilihan Pembaca Data?
    Ir H Arsyadjuliandi Rachman MBA
    DR H Firdaus MT
    Drs H Syamsuar MSi
    HM Harris
    H Hendry Munief MBA
    H Nurzahedi SE
    Ir H Muhammad Lukman Edy MSi
    Drs H Achmad MSi
    Drs H Irwan Nasir MSi

    Siapa WAKIL GUBERNUR RIAU Periode 2018-2023 Pilihan Pembaca Data?
    H Yopi Arianto SE
    Intsiawati Ayus SH MH
    H Rusli Effendi SPdI SE MSi
    H Suyatno AMP
    Khairuddin Al-Young Riau SHI MAg